SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DESA PAKUTANDANG KECAMATAN CIPARAY KABUPATEN BANDUNG  

Sejarah Desa

Kasi Pemerintahan 27 Agustus 2016 02:38:09

SEJARAH DESA

 

 

  1. 1.      GAMBARAN UMUM DESA PAKUTANDANG

Desa Pakutandang adalah merupakan salah satu desa dari empatbelas desa yang berada di wilayah Kecamatan Ciparay, dan merupakan salah satu desa perkotaan dengan luas wilayah 377,5 Ha. Luas tersebut terbagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan peruntukkannya, yaitu persawahan seluas 96 Ha, sektor pertanian berupa sawah ini masih cukup dominan dan terbentang dari sebelah Selatan sampai Utara di sisi Timur dan Barat, dengan kemiringan tanah sekitar 15o dan aliran sungai Cirasea sepanjang + 3 KM; Tanah perkantoran Seluas 3 Ha; tanah Pemukiman seluas kurang lebih 178,276 Ha, dsb.

Keberadaan Desa Pakutandang cukup strategis, hampir semua gedung perkantoran, mulai dari kantor Kecamatan, Mapolsek, Koramil, Kantor PU Bina Marga, Kantor UPTD Pendidikan TK/SD dan UPT PLKB berada diwilayah Desa Pakutandang. Sarana Pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak  hingga Perguruan Tunggi Swasta dan Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah bagian yang tak terpisahkan dan merupakan aset Desa Pakutandang.

Selain hal tersebut diatas, dalam bidang kerohanian warga masyarakat Pakutandang cukup religius, salah satu buktinya yaitu hampir di tiap RW terdapat sarana ibadah berupa Masjid ataupun surau, dengan jumlah masjid Jami 36 buah masjid, dan 28 buah Surau/ Langgar /Mushola. Begitupun dengan sarana transportasi umum seperti angkutan kota dan kendaraan roda dua lainnya, memudahkan warga masyarakat untuk beraktifitas.

Desa Pakutandang merupakan Desa Pemekaran dari Desa Induknya yaitu Desa Gunungleutik, Hingga saat ini Desa Pakutandang telah mengalami tujuh kali pergantian Kepala Desa (termasuk didalamnya PJS Kepala Desa). Wilayah desa terbagi ke dalam 4 Dusun, yaitu Dusun Cipaku, Dusun Barujati, Dusun Andir, dan Dusun Paledang. Jumlah Rukun Warga (RW) 21 RW dan jumlah Rukun Tetangga (RT) 76 RT. Batas-batas desa : sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ciparay; sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sagaracipta; sebelah Barat berbatasan dengan Desa Gunungleutik; dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Manggungharja.

Desa Pakutandang berada pada ketinggian 700 m dpl. Curah hujan sekitar 3000 mm/tahun. Musim hujan dalam satu tahun sebanyak enam bulan. Suhu rata-rata 31oC. Kondisi tanah sebagian bergelombang dan sedikit berbukit. Keadaan seperti ini cukup menunjang untuk sektor pertanian.

Jumlah penduduk Desa Pakutandang sebanyak 17.408 Orang. Terdiri dari 8.452 orang laki-laki dan 7.956 orang perempuan. Jumlah Kepala Kelurga sebanyak 5.327 KK.

Mayoritas Penduduk Desa Pakutandang beragama Islam sejumlah 16.118 orang; Kristen 164 orang; Katholik 11 orang; dan Aliran Kebatinan Perjalanan 171 orang. Beragamnya pemeluk agama ini tetap sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.

Mata Pencaharian penduduk  Desa Pakutandang sangat beragam mulai dari Buruh Tani, Petani, Buruh Bangunan, Karyawan Swasta, Pedagang, PNS, TNI, POLRI, Pensiunan, dlsb.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa hampir semua gedung perkantoran pemerintahan berada diwilayah Desa Pakutandang hingga dengan sendirinya akses warga desa yang membutuhkan pelayanan pihak Kecamatan sangat mudah hanya dengan jarak tempuh sejauh + 2 KM untuk warga yang berada paling jauh. Ditunjang dengan sarana transportasi yang memadai, maka jarak tempuh tersebut bukanlah merupakan hal yang sulit. Adapun jarak tempuh dari desa ke Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung sejauh + 33 KM.

 

  1. 2.      SEJARAH DAN ASAL USUL DESA PAKUTANDANG

Desa Pakutandang demikian nama desa itu, adalah merupakan sebuah Desa Pemekaran dari Desa Induknya yaitu Desa Gunungleutik yang memiliki Batas-batas wilayah  saat itu yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ciparay; sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sagaracipta; sebelah Barat berbatasan dengan Desa Gunungleutik; dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Manggungharja.

Pada saat itu Desa Gunungleutik dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang bernama :  Bapak ADJID. Pada hari kamis Tahun 1977 awal sejarah barupun dimulai. Dengan berbagai Pertimbangannya saat itu baik dari luas wilayah, jumlah penduduk, dlsb, serta masukan dari para tokoh Masyarakat. Bapak ADJID akhirnya memutuskan untuk mengadakan musyawarah dan mufakat dengan mengundang para tokoh masyarakat yang berada diwilayahnya yang bertujuan untuk melaksanakan pemekaran Desa Gunungleutik, serta menentukan nama baru dari desa pemekaran beserta menetapkan batas-batas wilayahnya.

Berbagai persiapanpun mulai dilaksanakan. Sebagai langkah awal dibentuklah Tim Perumus Pemekaran Desa sehingga pada musyawarah tersebut terbentuklah kepanitiaan atau Tim Perumus Pemekaran Desa tersebut dengan susunan sebgai beriklut :

 

Ketua Umum      :   Camat Ciparay.

Ketua I                 :  A.Ganda dari Dusun Cipaku

Ketua II               :   Nandang Bachri BA dari Dusun Andir

Sekretaris.I         :   Tarsa Tarmansya dari Gunungleutik.

Sekretaris. II       :   Sulaeman dari Dusun Paledang

Bendahara.I        :   Udin Rukanda dari Cipaku.

Bendahara.II       :   Atju Samsudin dari Gunungleutik.

Anggota              : 1. Uun Somana dari Kampung Barujati.

                               2. M.Sule Sastrawidjaya dari Kampung Andir

                               3. Erom Tisna Harja Sumpena.

                               4. Daud dari Serang Mekar.

                               5. Nana Suryana dari Kampung Paledang.

                               6. A.Hidayat dari Desa Gunungleutik

                               7. Ibin Rahmat dari Desa Gunung Leutik

                               8. Omo Sadma dari Desa Gunung Leutik.

                               9. Darusman dari Kampung Andir.

Hasil musyawarah yang pertama yaitu tentang penentuan batas –batas desa baru. Selanjutnya batas -batas tersebut diutarakan oleh Bapak ADJID  yang tentunya telah mendapatkan kesepakatan dari peserta musyawarah.

Tahapan musyawarah berikutnya yaitu Bapak ADJID memberikan kesempatan  (SAEMBARA) kepada yang hadir dalam musyawarah untuk memberikan nama kepada Desa baru itu, dengan ketentuan bahwa nama Desa baru tidak boleh sama dengan nama desa yang telah ada sebelumya.

Dari sekian banyak peserta musyawarah terdaftarlah sebelas orang peserta yang mewakili kampungnya masing – masing dan akan memberikan nama pada Desa baru tersebut. Satu persatu dan secara bergiliran peserta memberikan nama beserta argumentasinya yang dikemukakan langsung dihadapan peserta musyawarah.

Dari sebelas orang peserta tersebut, empat orang diantarannya sudah  mendapatkan giliran untuk memberi nama, diantaranya ada yang memberi nama Girisari dengan salah satu argumentasinya nama desa baru tersebut masih ada hubungannya dengan nama desa induknya yaitu Desa Gunungleutik, dan seterusnya. 

Tibalah giliran selanjutnya atau peserta kelima yaitu peserta dari perwakilan kampung Andir yang bernama bapak I.ASIKIN/ASIKIN. Beliau mengusulkan dengan memberikan nama, pada Desa baru tersebut dengan nama  PAKUTANDANG. Dengan alasan-alasanya yaitu :

Kata PAKUTANDANG diambil dari bahasa sunda yang mengandung makna,

  1. 1.      PAKU : Pamageuh.
  2. 2.      TANDANG  : Sikep

Jika disatukan kalimat tersebut dalam bahasa mengandung arti : Pamageuh Sikep (penguat sikap hidup) dan yang menjadi penguat sikap hidup itu yaitu Pancasila dan UUD ’45 selaras dengan falsafah hidup Bangsa Indonesia.

 

Adapun makna dari nama PAKUTANDANG tersebut kalau diperinci lagi persuku kata adalah merupakan akronim atau singkatan dari nama tiga kampung yaitu PAKU singkatan dari CIPAKU. T singkatan dari Tambah. AN singkatan dari ANDIR. DANG singkatan dari nama kampung yang bernama PALEDANG. Maka jadilah sebuah nama PAKUTANDANG.

Makna lain dari PAKUTANDANG berdasarkan argumentasi dari Sang Pemberi nama yaitu Bapak I. Asikin yaitu : CIPAKU artinya dalam bahasa Sunda, Cai Pamageuh (Air Penguat). ANDIR artinya dalam bahasa Sunda ngabebener (Atur), sehingga ada istilah NGANDIR CAI yaitu memener cai atau ngatur cai (mengatur air). PALEDANG artinya dalam bahasa Sunda Tukang nyieun parabot dapur Jeung sajabana tina Tambaga (Pengrajin barang atau alat rumahtangga dari bahan tembaga). Yang pada saat itu khususnya di Kecamatan Ciparay keberadan pengrajin tembaga tersebut hanya ada di Desa Pakutandang tepatnya di kampung Paledang.

Berdasarkan hal tersebut diatas nama PAKUTANDANG memberikan pengertian bahwa Desa baru tersebut terdiri dari tiga kampung (sekarang 3 Dusun) yaitu Kampung Cipaku, Kampung Andir, dan Kampung Paledang yang  merupakan wilayah kerja Kepala Desa Pakutandang.

Alhasil nama PAKUTANDANG saat itu dan hingga saat ini tidak ada kesamaan nama dengan nama-nama desa lainnya di Indonesia ini. Hal ini tentunya ada kesesuaian antara keinginan bapak ADJID dan dengan harapan Bapak I.Asikin, warga masyarakat di ketiga kampung tersebut saat itu, dan mudah-mudahan disaat yang akan datang tidak ada yang menyimpang dari Pancasila dan UUD ’45.

Akhirnya para peserta musyawarah yang hadir saat itu menyetujui dan sepakat untuk memberikan nama pada Desa baru tersebut dengan nama Desa PAKUTANDANG. Peserta lainnya yang sudah paling dulu memberikan nama pada desa baru tersebut dengan besar hati mencabut dan membatalkan  nama-nama yang sudah diusulkan oleh mereka sebelumnya. Begitupun dengan peserta lainnya yang belum mendapatkan gilirannya, membatalkan dan dapat menerima dengan lapang dada usulan dari bapak I. Asikin tersebut. Sehingga musyawarahpun berakhir tertib, serta penuh kapuasan.

Hal menarik dari Desa Pakutandang yaitu identik dengan adanya lapang Sepakbola Barujati yang keberadaanya tak lepas dari adanya sebuah mitos tentang keberadaan sebuah batu yang bernama BATU BANDÉRA. Yang letaknya disebelah barat lapang Sepakbola Barujati. Keberadaan Batu Bandéra tersebut seolah mengilhami Bapak I. Asikin bahwa kampung Barujati saat itu tahun 1979 dan suatu saat nanti harus maju dan terus membangun (bongan geus dibéré ciri) dengan adanya tanda berupa Batu Bandéra. Dengan pengertian beliau bahwa bendera biasanya dikibarkan di depan gedung, lembaga atau instansi Pemerintah, sedangkan pada saat itu kampung Barujati masih penuh dengan semak belukar.

Jika kita amati saat ini ternyata inspirasi beliau menjadi kenyataan. Disekitar Batu Bandéra tersebut berdiri beberapa gedung perkantoran seperti Kantor UPTD Pendidikan TK/SD, Kantor UPTD PLKB, gedung sekolah, perumahan dan di sebelah selatan saat ini berdiri Kantor Desa Pakutandang, Panti BPSTW, dan SMA Negeri Ciparay, dengan lampu penerangan yang terang benderang laksana sebuah kota.

Perlu kiranya dikemukakan disini sebagai catatan, siapa sesungguhnya bapak I. Asikin itu...? Beliau adalah seorang Pensiunan Kepala Sekolah SMP Negeri  I Ciparay  yang pertama dan menurut catatan yang ada serta cerita dari pelaku sejarah tentang Desa Pakutandang, bapak I.Asikin juga pernah turut andil dalam pemekaran Desa Magung yang sekarang bernama Desa Manggungharja. Menurut beberapa pendapat masyarakat, beliau juga seorang Budayawan, walaupun beliau sudah pensiun saat itu, namun masih tetap ingin membaktikan ilmunya dengan turut serta membina dan melestarikan bahasa Sunda di Majalah Manglé, dengan jabatan terakhir Dewan Redaksi.

Dari sekian banyak karya sastranya, pada tahun 1979 beliau menyimpan sebuah harapan dan angannya yang ditulis dalam sebuah Pupuh Kinanti sebanyak 3 bait yang ditulisnya dalam bahasa Sunda dan masih berhubungan dengan Sejarah Desa Pakutandang .

 

KIDUNG.

Kinanti winangun Kidung

Rinakit di dangding gending

Haleuang keur Pakutandang

Désa nu anyar sumanding.

Gumelar ka Alam Padang.

Muga seungit ngadalingding.

 

Pakutandang muga nanjung

Desa di jaring di aping

Di raksa Baranangsiang

Luluhur lembur awaking

Muga sagulung sagalang

Perlambangna Ramogiling

 

Titilar jaman béh ditu

Barujati sing ngabukti

Sina mekar jadi kota

Bongan geus dibéré ciri

Tetengger Batu Bandéra

Garapan anu pandeuri.

 

Harapan terakhir dari Sang Tokoh yang telah memberikan nama Desa PAKUTANDANG yaitu beliau berharap agar Pakutandang tetep Tandang, Rahayatna sagulung sagalang, perlambangna Ramogiling. Muga seungit ngadalingding...

 

 

 

 

  1. 3.      TEMPAT-TEMPAT BERSEJARAH / SITUS BUDAYA

Desa Pakutandang tidak memiliki tempat-tempat bersejarah ataupun situs Budaya, terutama yang bersifat Regional maupun Nasional. Seiring dengan berkembangnya zaman, maka sesuatu yang dianggap sakral ataupun  mitos, seperti keberadaan Batu Bandéra yang telah diceritakan sebelumnya, keberadaannya kian redup ditelan zaman.

 

BAB  II

 

ADAT ISTIADAT DESA

 

  1. 1.   Adat Istiadat Yang Berkaitan Dengan Kelahiran

Pada dasarnya adat istiadat yang berkaitan dengan Kelahiran, Khitanan, Pernikahan dan Kematian, serta yang lainnya seperti telah diuraikan sebelumnya keberadaannya mulai meredup ditelan zaman. Warga masyarakat kebanyakan memandang hal tersebut ataupun kejadian tersebut adalah sesuatu yang mengalir dan berjalan dengan sendirinya dan sesuatu hal yang tidak perlu untuk dibesar-besarkan ataupun di dramatisir. Hal ini kemungkinan sudut pandang ataupun cara berfikir masyarakat saat ini sudah lebih maju atau mungkin keliru sehingga sulit membedakan mana yang disebut adat istiadat? Manapula yang disebut ajaran Agama?

 

  1. 2.        Adat Istiadat Tentang Sopan Santun

Tidak ada.

 

  1. 3.        Adat Istiadat Pergaulan (Muda–mudi)

Tidak ada.

 

  1. 4.        Adat Istiadat Yang Berkaitan Dengan Pengelolaan Sumber Daya Alam

Tidak ada.

 

  1. 5.        Tabu atau Pantangan

Tidak ada.

 

  1. 6.        Petatah petitih/Pantun

Tidak ada.

 

  1. 7.        Upacara Ritual

Tidak ada.

 

  1. 8.        Permainan Tradisional

Tidak ada.

 

  1. 9.        Pakaian Adat

Tidak ada.

 

  1. 10.    Rumah Adat

Tidak ada.

 

  1. 11.    Makanan Khas Tradisional

Tidak ada

 

  1. 12.    Obat Tradisional

Sebagian warga masyarakat dewasa ini, khususnya yang terkena penyakit, sudah mulai mengurangi pengobatan secara medis. Selain harganya mahal dan sulit dijangkau oleh kondisi ekonomi masyarakat kecil. Mereka mulai tahu dan menyadari bahwa dampak dari terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan kimia, maka lama-lama akan mengakibatkan terganggunya fungsi organ tubuh tertentu.

Oleh karena itu, obat tradisional menjadi salah satu alternatif pilihan yang tepat. Selain harganya murah, bahkan dapat dikatakan tidak perlu membeli, mendapatkannya juga mudah, yaitu didapat disekitar tempat tinggal.  Misalnya biji Petai Cina (Bahasa Sunda = Sélong) dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kencing manis (Diabetes Mellitus). Sambiloto dipercaya dapat mengurangi penyakit tekanan darah tinggi. Serta tanaman lainnya seperti Kumis Kucing, Antanan, Mahkota Dewa, Babadotan (Istilah Bahasa Sunda), Sintrong (Istilah Bahasa Sunda), dipercaya dapat mengurangi berbagai macam penyakit lainnya.  Selain itu, ada juga obat yang berasal dari makhluk hidup seperti cacing tanah, dipercaya dapat mengurangi atau menurunkan penyakit panas yang diakibatkan oleh penyakit thypus, serta masih banyak lagi tanaman dan makhluk hidup lainnya yang ditengarai bisa dijadikan sebagai bahan obat tradisional.

Namun sekalipun demikian, kebanyakan obat-obatan tersebut dikonsumsi tatkala warga masyarakat sebelumnya sudah berobat ke dokter dan tak kunjung sembuh. Maka obat alternatif atau tradisionallah yang kemudian menjadi pilihan pengobatan selanjutnya.

Selain dari semakin kurangnya informasi serta pengetahuan masyarakat terhadap pamakaian ataupun pengolahannya, maka keberadaan obat tradisional tersebut saat ini sudah mulai terabaikan oleh sebagian besar masyarakat.

Komentar atas Sejarah Desa

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
No. HP
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Peta Desa

Informasi COVID-19 Kabupaten Bandung

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI ..... !!!

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Aparatur Desa

Sinergi Program

Komentar Terkini

Info Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung